ARTIKEL:

STROKE? KE BUKITTINGGI SAJA...

Penulis: Winitra Rahmani, SSos

Bukittinggi yang dikenal dengan Jam Gadang ini, terkenal di Nusantara dan mancanegara. Bukan saja karena menjadi daerah utama tujuan wisata, tetapi karena di masa perjuangan, Bukittinggi pernah menjadi Ibukota Republik, saat Indonesia dalam keadaan darurat, menyusul dikuasainya Jakarta dan Yogyakarta serta ditawannya Soekarno-Hatta oleh Belanda. Melalui Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI), yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara, Indonesia dikendalikan dari Bukittinggi.

Kota Bukittinggi adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Kota ini memiliki luas wilayah 25,24 km2 dan berpenduduk sekitar 100.254 jiwa (kepadatan 3.970 jiwa/km²) dengan laju pertumbuhan penduduk 2,04 persen pertahun. Letaknya sekitar 3 jam perjalanan lewat darat (90 km) dari ibukota provinsi Padang. Bukittinggi dikelilingi tiga gunung berapi, yaitu Gunung Singgalang, Gunung Merapi, dan Gunung Sago.

Bukittinggi terletak antara 100,21-100, 25 Bujur Timur dan 00.17-00.19 Lintang Selatan dengan ketinggian 090-041 m di atas permukaan laut. Kota ini berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara minimum 16,1 dan maksimum 24,9 °C.

Di kota yang sejuk ini terdapat sejumlah objek wisata, antara lain Ngarai Sianok yang berlokasi di pinggir kota, yang menjadi pemisah Bukittinggi dengan kaki Gunung Singgalang. Ngarai Sianok atau lembah yang pendiam, merupakan lembah yang indah, hijau dan subur. Dibawahnya mengalir sebuah anak sungai yang berliku-liku menyelusuri celah-celah tebing yang berwarna-warni dengan latar belakang Gunung Merapi dan Gunung Singgalang.

Di tengah kota Bukittinggi berdiri kokoh sebuah Jam Gadang yang didirikan tahun 1926 oleh Controleur Rock Maker dan dirancang oleh Putra Minangkabau: Jazid dan Sutan Gigi Ameh. Dibawah Jam Gadang ini setiap harinya dipenuhi pengunjung.

Tak kalah menariknya Goa Jepang yang dibangun pada 1944 untuk kepentingan pertahanan tentara penjajah Jepang pada Perang Dunia II. Dari lubang Jepang, para wisatawan bisa langsung menuju ke bawah yakni Ngarai Sianok. Selain itu ada Benteng Fort de Kock, yang didirikan Kapten Baver pada tahun 1825. Dari benteng dapat dilihat pemandangan yang menawan Kota Bukittinggi serta Gunung Pasaman, Singgalang, Merapi, dan Gunung Sago. Pada tahun 2002 benteng ini mengalami renovasi dengan menambah Taman Burung untuk rekreasi.

Cukup banyak lokasi wisata lain yang menarik untuk dikunjungi dan semuanya mengandung sejarah tersendiri. Tak cukup sehari dua hari menyusuri semua tempat tersebut. Dan yang mengesankan adalah semua lokasi wisata ini dibalut dengan keindahan alam khas yang tak bisa dijumpai di daerah lain. Rasanya ingin sekali kembali berkunjung ke Bukittinggi karena terus terang aku belum merasa puas menikmati keindahan yang ada disana.
Saat ini daya tarik Kota Bukittinggi bertambah satu. Bukan hanya keindahan alam dan kemegahan Jam Gadang saja yang dapat dinikmati oleh wisatawan. Ada Jembatan Refleksi sebagai alternatif tempat wisata sekaligus pengobatan, khususnya untuk penyakit stroke.

Sejak tahun 2003 Bukittinggi juga mulai dikenal sebagai pusat penanganan penyakit stroke. Masyarakat Sumatra Barat punya potensi paling besar menderita penyakit jantung koroner dan stroke di Indonesia. Stroke merupakan gangguan fungsi otak akibat aliran darah ke otak mengalami gangguan. Stroke bisa menyerang siapa, di mana saja, kapan saja. Penyebab stroke adalah penyumbatan aliran darah (trombus) dan pecahnya pembuluh darah. Umumnya pada stroke akibat penyumbatan aliran darah, penderita lebih banyak dialami wanita. Pria kebanyakan menderita stroke diakibatkan pendarahan, yang berkait erat dengan aktivitas mereka. Dua faktor penyebab stroke adalah faktor yang tidak dapat diubah seperti umur, jenis kelamin, ras, dan genetik; faktor yang dapat diubah seperti hipertensi, jantung, diabetes, kelebihan kadar lemak dalam darah. Juga, kebiasaan malas berolahraga, minuman beralkohol, kebiasaan merokok, obat-obatan, kegemukan dan stres. Mayoritas, stroke menyerang orang berusia di atas 50 tahun. Namun dengan pola makan dan jenis makanan yang ada sekarang ini, tidak menutup kemungkinan stroke menyerang mereka yang berusia muda. Apalagi dengan adanya budaya makan masyarakat Minang yang banyak mengonsumsi kolesterol. Oleh karena itulah didirikan Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi yang dahulu merupakan Rumah Sakit Umum Pusat Bukittinggi. Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi merupakan yang pertama di Indonesia dan ketiga di dunia. Rencananya Bukittinggi akan menjadi pusat pelayanan kesehatan, karena selain Rumah Sakit Stroke, juga terdapat empat rumah sakit lainnya di kota yang relatif kecil ini.

Salah satu keistimewaan Rumah Sakit Stroke ini adalah adanya Jembatan Refleksi. Kehadiran Jembatan Refleksi atau yang lebih dikenal dengan nama Jembatan Stroke pada tahun 2003 di Lapangan Wirabraja Kodim 0304 Agam Kota Bukittinggi, Sumatera Barat – masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan Lapangan Kantin – ternyata berdampak positif bagi pariwisata. Arus kunjungan ke kota wisata itu cenderung bertambah ramai. Jembatan tersebut memang sengaja dibangun di lapangan yang lokasinya berdekatan dengan Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi karena awalnya diperuntukkan bagi pasien stroke yang kondisinya sudah baik dan bisa berjalan sehingga sekaligus refreshing, keluar dari area rumah sakit. Namun karena berada di tempat umum, jembatan tersebut ternyata menarik minat masyarakat luas.

Ide pembangunan jembatan ini berasal dari Walikota Bukittinggi, Drs. H. Djufri, karena terinspirasi dengan pengobatan tradisional Cina. Bekerjasama dengan Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi (dahulu bernama Pusat Pengembangan dan Penanggulangan Stroke Nasional Rumah Sakit Umum Pusat Bukittinggi), proses pembangunan jembatan yang menghabiskan dana sekitar 125 juta rupiah itu diselesaikan hanya dalam kurun waktu 6 bulan. Jembatan Refleksi dibangun berbentuk jembatan sepanjang 54 meter dengan lebar 1,5 meter, dibagi menjadi dua jalur dengan besi pengaman yang berfungsi untuk tempat pegangan. Kabarnya sejak dibangun bulan Mei 2003 dan dibuka untuk umum, Jembatan Refleksi di Bukittinggi tak pernah sepi dari pengunjung. Dari pagi hingga tengah malam, setiap harinya, antri oleh pengunjung yang berasal dari berbagai kota untuk menjalani terapi sehat di jembatan tersebut. Keberadaan jembatan yang pertama kali di Indonesia itu, konon, bisa membuat orang jadi sehat dan sembuh dari penyakit yang dideritanya. Namun pada saat aku kesana tidak ada satupun masyarakat yang terlihat menjalani terapi sehat tersebut dikarenakan saat itu adalah bulan puasa. Tapi itu menjadi keuntungan tersendiri buat aku dan teman-temanku, karena kami bisa mencobanya tanpa harus mengantri. Rasanya? Sakit tapi sesudahnya nikmat!

Jembatan Refleksi yang dikenal masyarakat itu sebenarnya adalah paralel board (jalur sejajar). Yang membuat jembatan ini istimewa adalah ratusan batu kali seukuran telur ayam yang disusun secara permanen di dasar jembatan. Tekstur seperti itu diyakini dapat menjadi terapi pengobatan penyakit stroke karena berguna untuk melancarkan sirkulasi darah. Selain itu, bisa mengurangi gejala berbagai penyakit dan meningkatkan metabolisme tubuh.

Jembatan Refleksi saat ini makin digemari masyarakat. Selain masyarakat Sumatera Barat yang datang menikmati, ternyata sejumlah pendatang justru dari kota-kota besar lain seperti Riau, Medan, Jambi, bahkan dari Jakarta. Namun tidak semua orang boleh melewati jembatan ini. Selain penderita epilepsi, orang yang mempunyai sakit jantung pun tidak boleh. Juga penderita sesak nafas, asma, ibu hamil, wanita yang sedang menstruasi, dan anak-anak di bawah umur 15 tahun. Kalau tensi tinggi jangan berjalan lama di jembatan ini. Cukup satu kali saja. Kecuali yang normal, bisa empat kali melewati jalur ini.

Menurut penuturan Ibu Paulina, Penanggung Jawab Kepala PKRS RS. Stroke Nasional Bukittinggi, Walikota Bukittinggi sendiri juga tak menyangka bahwa jembatan yang dibangun bekerja sama dengan Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi itu mendapat perhatian besar dari masyarakat dan wisatawan. Saking banyaknya peminat jembatan tersebut, 3 bulan setelah peresmiannya dibangun jembatan serupa oleh seorang donatur dari Bukittinggi. Jembatan Refleksi kedua ini dibangun tepat di depan SMP di Belakang Balok, tidak jauh dari lokasi jembatan yang pertama. Kemudian setelah itu, dibangun lagi jembatan ketiga yang berlokasi di luar area Bukittinggi.

Tiada kata-kata yang bisa melukiskan betapa indahnya alam serta betapa besarnya karunia Tuhan pada masyarakat Sumatera Barat, khususnya Bukittinggi ini. Meskipun hanya sejenak berada disana dan meskipun sedikit terganggu dengan adanya kabut asap ‘kiriman’ dari Riau serta hujan yang hampir terus-menerus turun di Padang dan Bukittinggi (padahal menurut guide yang menemani aku dan teman-teman selama disana, Padang dan Bukittinggi sudah berbulan-bulan tidak hujan!), namun secara keseluruhan aku menikmati perjalanan ini. Seandainya setiap tugas kantor seperti ini, betapa menyenangkannya!




Artikel lainnya:
prev <<      next >>
TIPS SEHAT